Mendengar kata “Belajar” banyak dari kita yang tertuju pada proses pembelajaran di ruang kelas. Sebuah ruang yang biasanya persegi panjang dengan meja, kursi dan papan tulis. Dimana ada guru yang menjelaskan dan ada murid yang diam mendengarkan. Sebagian lagi ada yang mengidentikan belajar adalah proses membaca buku, menulis materi atau mengerjakan PR dari sekolah. Padahal jikalah kita amati lebih dalam, belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas. Tidak hanya dilakukan oleh seorang guru yang berprofesi sebagai “guru” dan tidak melulu belajar dari buku. Tidak hanya dilakukan disaat mengenakan seragam sekolah.
Pembelajaran di luar kelas sangat perlu untuk memberikan pengalaman dan suasana baru dalam kegiatan belajar mengajar.
Hal itu yang mendorong Bp/Ibu guru untuk mengajak siswa-siswi kelas 3 SD Karangturi untuk belajar di luar kelas. Kegiatan bertajuk “Kid Outdoor Learning 2018” ini dilaksanakan di desa Kalipucung, Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang pada hari Jumat 13 April 2018, tepatnya sekitar 30km dari pusat kota Semarang.
Di tempat yang berhawa sejuk tersebut, anak-anak belajar banyak hal antara lain belajar budaya, bercocok tanam, mengenal mainan tradisional, belajar gotong royong dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kegiatan dimulai pukul 09.00, mereka disambut dengan kesenian tradisonal asli desa Kalipucung yaitu seni tari reog. Anak-anak begitu terkesan melihat gerakan sang penari mengikuti musik gamelan yang dimainkan. Kepala desa Kalipucung Bp. Antonius Waluyo memberikan ucapan selamat datang dan selamat belajar untuk anak-anak SD Karangturi, “Kami sangat berterima kasih atas kedatangan adik-adik ke Desa Kalipucung ini, kami harap adik-adik dapat belajar dan melakukan kegiatan hari ini dengan baik, semoga apa yang kami ajarkan hari ini dapat memberikan pengalaman yang baru untuk anak-anak SD Karangturi” tambahnya. Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian kelompok, anak-anak dibagi menjadi 4 kelompok yang kemudian mereka akan melakukan aktifitasnya masing-masing, antara lain: bercocok tanam, memanen jagung, belajar tarian tradisional, mengenal mainan tradisional dan membuat gula aren. Melalui kegiatan ini diharapkan anak-anak mendapatkan pengalaman yang baru, mencintai budaya Indonesia, tumbuh jiwa gotong royong dan saling membantu.