Kebudayaan memang universal  – melewati batas-batas bangsa, suku, dan wilayah. Hari Kasih Sayang (Valentine Day) yang notabene budaya barat, yang kemudian dikolaborasikan dengan perayaan Imlek (tradisi timur), dan bertambah semarak dengan adanya sentuhan budaya Betawi serta tetabuhan gending Jawa, berbaur penuh keindahan dalam keanekaragaman di TK – SD Karangturi. Ornamen bernuansa pink simbol kasih sayang, rupa-rupa pernak-pernik merah-kuning dan lampion khas etnis Tionghoa, ondel-ondel dan manggar citarasa Betawi, serta alunan gending Jawa, menjadi perwujudan ‘Indonesia yang Berbhinneka Tunggal Ika’ – ‘Indonesia Rich in Culture’. Tema inilah yang diusung oleh TK – SD Karangturi dalam peringatan Imlek dan Valentine Day pada tanggal 14 – 15 Februari lalu.

Rangkaian aktivitas pun digelar: parade seluruh ekstra kurikuler, performance liong dan barongsai  yang disambut meriah oleh anak-anak dengan memberikan ang pao, penampilan gending UDINUS yang berupa E-Gamelan /gamelan elektronik, talkshow bertema ‘Indonesia-Rich in Culture’ bersama Bapak Rafael Soenarto dan Bapak Harjanto Halim, serta pameran berbagai karya siswa dari barang bekas, memberi nuansa berbeda pada perayaan Valentine dan Imlek kali ini. Tidak hanya itu saja, seluruh siswa PG, TK, dan SD pun unjuk kebolehan dalam pentas seni di acara ini. Meskipun keringat dan peluh membasahi tubuh, tampak keceriaan dan semangat menghiasi wajah anak-anak masa depan bangsa ini. Acara yang juga melibatkan Posturi TK-SD Karangturi ini sendiri semakin unik dan kaya akan budaya ketika seorang ‘dalang cilik’ memainkan karakter pewayangan dengan piawai layaknya dalang kondang.

Di lokasi yang berbeda (masih di sekitar TK-SD Karangturi), aksi nyata Peduli Kasih dengan berbagi bingkisan dan coklat yang dilakukan oleh para siswa bagi saudara yang membutuhkan: tukang becak, pedagang, cleaning service juga mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat sekitar. (hms)