Kamis (29/9) perwakilan siswa kelas VII yang ditemani oleh beberapa  guru pendamping, diantaranya Drs. Lilik Kusnadi, MA, Dewi Yulaekha, S.Pd dan Jhonij Sugiarto, S.Th  melakukan kunjungan ke Sobokarti. Sobokarti merupakan Gedung Cagar Budaya yang terletak di Jl. Dr. Cipto Semarang. Kunjungan ke Sobokarti kali ini benar-benar membawa pemahaman dan kecintaan anak terhadap budaya. Pengenalan gedung Sobokarti mampu menumbuhkan kekaguman siswa kelas VII SMP Karangturi terhadap kebudayaan jawa, misalnya dari segi tata letak dan bentuk bangunan Gedung Sobokarti yang merupakan perpaduan antara gaya tradisional Jawa dengan Eropa.

Foto : Gedung Sobokarti

Kegiatan  yang terlaksana mulai  pukul 10.00 WIB tersebut membawa antusiasme siswa-siswi dalam mempelajari sejarah dan kebudayaan Jawa. Sesuai dengan harapan SMP Karangturi bahwa kecintaan, apresiasi dan minat terhadap kebudayaan tradisional mulai tumbuh dalam diri siswa-siswi tersebut. Beberapa siswa terlihat antusias dan aktif dalam mengikuti penjelasan mengenai gedung cagar budaya Sobokarti. Mereka tidak sungkan-sungkan  berinteraksi  dengan nara sumber  baik dalam bahasa Indonesia mau pun dalam bahasa Inggris. Selain itu tak sabar siswa berkeinginan untuk segera menjelajahi area Sobokarti.

Pengurus Sobokarti menuturkan  bawa sejarah berdirinya gedung Sobokarti terinspirasi oleh hubungan baik antara Thomas Karsten (arsitek dan tata letak kota semarang dan yang membangun  pasar Johar) dengan Mangkunegoro VII. Kedua sahabat ini merasa saling tertarik akan tradisi dan budaya satu sama lainya, sehingga mereka berinisiatif  untuk mendirikan gedung cagar budaya Sobokarti.

Gedung sobokarti ini terdiri dari  beberapa bagian yakni pelataran, panggung yang didominasi oleh arsitektur tradisional jawa serta tempat duduk audiens yang terkonsep dari budaya Eropa yang membuat audiens merasa nyaman saat menonton acara tradisional atau pun pagelaran. Pada bagian depan gedung terdapat  tempat penjualan tiket dengan  nuansa Jawa.

Berkeliling area Sobokarti membawa kekaguman tersendiri  akan kekayaan tradisi jawa.  Siswa siswi berharap kedepan  dapat diadakan kegiatan seperti ini lagi, dimana mereka bisa melihat langsung kekayaan kebudayaan tradisional kita. (JS)